29 Des 2015

PESAN DARI D.N AIDIT UNTUK PARA SASTRAWAN DAN SENIMAN INDONESIA


D.N Aidit tidak mati-mati. Begitupun dengan segala wejangan beliau. Saya sajikan salah satunya untuk kita, terutama yang bergerak di dalam bidang kesusastraan. Dikutip dari pidatonya di pembukaan Konfernas Sastra dan Seni Revolusioner, 27 Agustus 1964.
"Mungkin masih ada “kerikil” yang menyebabkan para sastrawan dan seniman kita belum keranjingan untuk menggarap tema-tema besar seperti pemberontakan 1926, tanah pembuangan Digul, pemberontakan “Zeven Provincien”, Revolusi Agustus 1945, pembasmian “PRRI-Permesta”, penghancuran DI-TII, pembebasan Irian Barat dan tema-tema lain yang dapat membangkitkan kebanggaan nasional, misalnya karena melihat adanya kelemahan-kelemahan pada tiap-tiap perjuangan itu. Pemberontakan 1926 adalah pemberontakan yang gagal, di antara orang-orang yang dibuang ke Digul ada yang menyerah kepada Belanda. Pemberontakan “Zeven Provincien” juga gagal. Revolusi Agustus berlangsung tanpa pimpinan yang sadar dari proletariat. “PRRI-Permesta” dan DI-TII diselesaikan dengan kompromi, dan Irian Barat bebas dengan campur tangan Bunker dari Amerika Serikat. Inilah yang mungkin menjadi “kerikil” sehingga tidak menimbulkan rangsang untuk menulis. Jika benar ini yang menjadi sebab, maka sama sekali tidak beralasan. Kegagalan sesuatu pemberontakan revolusioner tidaklah berarti bahwa pemberontakan itu salah, dan sekalipun ia gagal, ia tetap melahirkan pahlawan-pahlawan. Kelemahan beberapa gelintir orang dalam pembuangan tidaklah berarti semua orang buangan revolusioner menjadi pengkhianat dan lemah jiwa seperti coba digambarkan oleh Sutan Sjahrir dalam bukunya “Indonesische Overpeinzingen” (Renungan Indonesia). Biarlah Sutan Sjahrir merenung-renung, tapi sastrawan dan seniman revolusioner harus menuliskan kepahlawanan orang-orang revolusioner tanah pembuangan Digul itu. Jika sesuatu perjuangan “diselesaikan” dengan kompromi, sudah pasti yang berkompromi bukanlah rakyat, dan korban sudah banyak berjatuhan, pahlawan sudah banyak dilahirkan. Jika sesuatu pemberontakan, sesuatu revolusi atau sesuatu aksi gagal atau tidak mencapai tujuan yang sepenuhnya karena tanpa pimpinan yang sadar, ini tidaklah berarti bahwa pemberontakan, revolusi atau aksi itu salah, tidaklah berarti bahwa tidak ada perbuatan kepahlawanan yang harus ditulis. Tentang ketiadaan pimpinan yang sadar dari PKI, justru itu yang juga harus diungkapkan agar lain kali pimpinan dilakukan sesadar-sadarnya oleh PKI. Saya mengetok hati kawan-kawan dengan harapan supaya dalam waktu yang tidak terlalu lama pahlawan-pahlawan yang sudah berjatuhan dan yang masih hidup itu menambah semaraknya perjuangan revolusioner Rakyat Indonesia lewat karya kawan-kawan.
Siapakah yang bersalah jika ada orang yang mengira bahwa nama “Aliarcham” ada hubungannya dengan “Al Azhar”? Bahwa Akademi Ilmu Sosial “Aliarcham” di Jakarta dikira berafiliasi dengan Universitas Al Azhar di Kairo? Tentu bukan salah ayah dan ibu Aliarcham yang memberi nama Arab kepada anaknya, tetapi karena pahlawan rakyat tidak diperkenalkan kepada rakyat yang memiliki pahlawan itu oleh mereka yang harus memperkenalkannya. Sekarang banyak universitas dan akademi memakai nama pahlawan. Ini baik sekali, menandakan bahwa kita generasi sekarang tidak menyia-nyiakan pahlawan-pahlawan kita. Tetapi berapa banyak orang yang mengetahui perbuatan kepahlawanan mereka? Dalam perjuangan yang bagaimana mereka tampil sebagai pahlawan?
Kira-kira sepuluh tahun yang lalu pernah gambar penulis Soviet Ilya Ehrenburg diarak dalam suatu demonstrasi 1 Mei. Kalau kita mau berterus-terang, berapalah jumlah buku Ehrenburg di negeri kita ini, berapa orang yang sudah membacanya, berapa pula yang membacanya tamat, dan di antara yang membacanya tamat itu berapa orang yang berhasil menarik pelajaran untuk revolusi Indonesia, khususnya untuk perkembangan sastra dan seni revolusioner Indonesia. Jumlah bukunya yang beredar hanya sedikit sekali, yang tamat membacanya bisa dihitung dengan jari dan yang membaca dengan berhasil menarik pelajaran untuk kepentingan revolusi Indonesia mungkin tidak ada. Tapi gambar Ehrenburg diarak. Gejala apa ini, kalau bukan gejala dogmatisme dan formalisme. Karena Ehrenburg seorang penulis Soviet, sedangkan Soviet itu adalah baik, karya-karyanya dikira juga baik, dan oleh karena itu gambarnya diarak sekalipun yang mengarak dan yang menyuruh mengarak tidak tahu apa-apa tentang karya Ehrenburg.
Masih ada lagi sastrawan dan seniman luar negeri yang pernah dipuja-puja oleh sementara orang revolusioner negeri kita dengan tidak memikirkan betapa hubungannya dengan revolusi kita dan dengan perkembangan sastra dan seni revolusioner kita. Saya tidak berbicara tentang apa yang terjadi di kalangan mereka yang tidak revolusioner, karena memuja segala yang datang dari luar negeri, termasuk juga memuja penyebar-penyebar segala yang bertentangan dengan kepentingan revolusi Indonesia, adalah biasa dan akan terus menjadi kebiasaan mereka.
Kita kaum Komunis bisa dan harus pandai menilai dan menghargai karya-karya sastra dan seni progresif dari luar negeri. Tetapi penilaian dan penghargaan kita pertama-tama harus dilihat dari segi hubungannya dengan kepentingan revolusi Indonesia dan tidak boleh berakibat menganggap rendah sastrawan dan seniman kita sendiri serta karya-karyanya. Perkenalan kita dengan karya-karya sastrawan dan seniman progresif luar negeri harus menjadi perangsang bagi kita guna mengenal lebih baik sastrawan dan seniman kita sendiri, guna meningkatkan kesadaran kita tentang keharusan memberi tempat dan penghargaan yang wajar kepada sastrawan dan seniman kita yang sudah tidak ada lagi, serta mendorong maju ke pekerjaan sastrawan dan seniman kita sekarang."

9 Nov 2015

7 November, 98 Tahun yang Lalu

7 November, 98 tahun yang lalu, adalah hari bagi kemenangan Revolusi Rusia 1917. Lelaki botak bermata Tar-Tar, Vladimir Ilyich Lenin, berhasil mengombinasikan kepemimpinan praksis revolusioner dengan sumbangan teoritis yang penting bagi pemahaman sosialis tentang dunia dan bagaimana mengubahnya. Dua kontribusi teoritisnya yang paling penting adalah tentang Imperialisme dan strategi revolusioner di negara-negara terbelakang yang tereksploitasi. Mari kita bahas satu per satu.
Imperialisme:
Saat ini dunia masih didominasi oleh sebuah sistem yang membaginya dalam dua pihak, kaya dan miskin, yang mengeksploitasi dan yang dieksploitasi--tidak hanya antar bangsa, tapi juga diantara bangsa itu sendiri. Sistem yang memaksa orang (klas pekerja atau proletariat) untuk bekerja agar bisa tetap hidup di bawah kontrol mereka (klas penguasa atau borjuasi) yang memiliki semua industri-industri kunci. Klas penguasa dari berbagai bangsa yang berbeda bersaing untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar dengan mengeksploitasi yang lainnya demi keuntungan kapital. Watak dasar sistem inilah yang dianalisa oleh Lenin di tahun 1916. Sebuah kejadian yang menguatkan pembangunan teori Lenin adalah Perang Dunia I, kaum Marxis memahaminya sebagai pertempuran di antara klas penguasa di negara-negara kapitalis maju untuk meraih kontrol sepenuhnya atas dunia beserta sumber daya alamnya.Telah banyak peperangan yang terjadi di abad ini karena pertempuran yang sama, demi pasar yang lebih besar untuk penjualan produk mereka, dan kontrol yang lebih besar atas sumber daya alam dan kaum buruh yang bisa diperbudak.
Salah satu faktor disebutnya sebuah negara sebagai imperialis adalah klas penguasa di suatu negara memunyai modal atau keuntungan yang dapat digunakan untuk investasi di negara lain; investasi itu untuk membeli bahan mentah dan buruh yang ada di negara tempat investasi, dan untuk mengisap laba dari mereka.
Negara Imperialis mulai mendominasi negara dunia ketiga melalui kontrol penjajahan langsung. Sekarang kontrol mereka itu kebanyakan mengambil bentuk dominasi ekonomi atau modal. Kucuran utang yang diberikan bank-bank negara maju kepada Dunia Ketiga yang dipaksakan untuk membiayai "pembangunan" dengan menggunakan pinjaman tersebut, memaksa negara-negara Dunia Ketiga tersebut untuk mengijinkan perusahaan-perusahaan dari negara-negara imperialis untuk mengeksploitasi secara massif sumber daya alam dan kaum buruh mereka.
Pembagi-bagian dunia oleh kaum imperialis menyediakan sebuah lahan permanen bagi kapitalisme untuk mengeksploitasi secara massif klas pekerja. Sebagai contoh, Nike membayar buruhnya sebesar 25 sen dollar Australia perhari di pabrik mereka yang berada di Indonesia, tapi mereka menjual sepatunya di negara-negara maju seharga ratusan dollar.
Imperialisme mengurung negara dunia ketiga --lebih dari 4 per 5 populasi dunia- dalam kemelaratan, namun mereka mengingkarinya secara sistematis, dengan argumen teknologi dan bantuan finansial yang diberikan itu dibutuhkan untuk pembangunan.
Keuntungan besar bagi klas penguasa di negara-negara imperialis dengan digunakannya sistem ini, memungkinkan kaum penindas itu untuk memperoleh sebuah derajat ketentraman sosial tertentu di negara-negara Dunia Pertama, khususnya Amerika, dengan menyediakan dalam kadar tertentu hak-hak istimewa, yang mengilusi banyak pekerja untuk mempertahankan sistem keuntungan individual. Lenin menyebut lapisan ini (yang terilusi dan menjadi antek kapitalis) sebagai “Aristokrat buruh”, yang seringkali merasa diri bukanlah bagian dari klas pekerja. Ilusi untuk mempertahankan sistem kapitalisme melanda negara-negara Dunia Pertama.
Biasanya, klas penguasa menggunakan kebanggaan nasionalisme untuk menghancurkan solidaritas para pekerja yang ada di negara Imperialis terhadap penindasan yang menimpa kaum buruh di negara Dunia Ketiga; terindoktrinisasi dalam apa yang disebut Wajib Militer. Karena mereka tahu, rasa solidaritas itulah yang dapat memenangkan perjuangan melawan eksploitasi imperialis. Rasisme biasanya juga digunakan untuk memecah-belah buruh-buruh di negara Dunia Pertama dan Ketiga.
Di negara-negara otoriter, sistem ini dipaksakan dengan cara-cara yang lebih brutal seperti kediktatoran, aturan-aturan militer yang hanya menguntungkan klas kapitalis, dan juga represi.
Lalu apa strategi yang diterapkan oleh Lenin pada saat itu?
Lenin menggunakan pengalamannya dalam membangun gerakan revolusioner di Rusia untuk memformulasikan teorinya tentang strategi revolusioner di negara-negara terbelakang.
Tugas terberat kaum revolusioner pada masa kekaisaran Rusia adalah memenangkan kesadaran yang ada pada klas pekerja, dan keterlibatan aktif mereka dalam proses revolusi. Mayoritas rakyat Rusia bukanlah buruh, melainkan para petani yang berada pada taraf subsistensi pra-industrial, dan hak-hak demokratik pun, meskipun bersifat terbatas, ditolak oleh Rezim represif Tsar.
Di Rusia tidak ada syarat untuk melahirkan Revolusi Borjuis seperti yang terjadi di negara-negara Eropa Barat, di mana aturan-aturan monarki digantikan oleh parlemen yang terpilih. Adanya parlemen ini merefleksikan pertumbuhan kekuatan ekonomi di bidang politik, dan mereka, klas borjuis, menjadi klas penguasa yang baru. Borjuasi Rusia secara ekonomis sangat lemah, dan secara politis mereka takut untuk bekerja sama dengan klas buruh dan tani dalam revolusi borjuis.
Menurut teori “Uninterrupted Revolution“ (revolusi berkelanjutan) yang dikembangkan oleh Lenin, tahapan yang pertama adalah keterlibatan klas pekerja dan seluruh petani dalam penggulingan Tsar dan pembentukan sebuah republik demokratik. Yang kedua, tahapan sosialis yang melibatkan buruh yang bersatu dengan para petani miskin untuk melawan para kulak (tuan tanah).
Untuk memudahkan dan menerapkan tahapan yang pertama, Bolshevik meyakini sebuah sistem yang didasarkan pada perwakilan-perwakilan (soviet) buruh dan tani yang dipilih oleh rakyat. Sistem pemerintahan inilah yang akhirnya diterapkan setelah revolusi 1917.
Reformasi agraria akan tuntas ketika kontrol atau kepemilikan tanah yang dipegang oleh tuan-tuan tanah diambil-alih oleh para petani penggarap. Bagaimanapun, Lenin percaya bahwa para petani miskin tidak akan segera menyadari perbedaan kepentingan mereka dengan petani kaya, dan oleh karena itu, mereka juga tidak akan segera mendukung langkah-langkah sosialis seperti kolektivisasi tanah.
Dalam tahap kedua, kekuasaan politik digunakan oleh klas pekerja untuk memperoleh kontrol ekonomi secara langsung, dan untuk membantu para petani miskin dalam pengambil-alihan atas kontrol tanah.
Pada tahun 1918 Lenin menulis: “Sesuatu telah berubah seperti yang dulu kita katakan. Pelajaran yang didapat dari revolusi telah menegaskan kebenaran penjelasan atas argumen-argumen kita. Pertama, dengan kaum tani melawan monarki, melawan tuan-tuan tanah, melawan pemikiran abad pertengahan atau mediavalism (dan untuk meningkatkan revolusi terhadap sisa-sisa borjuasi, demokratik borjuis). Kemudian bersama dengan kaum petani miskin, semi-proletariat, dan semua yang tereksploitasi, mereka akan berperang membantai kapitalisme, termasuk orang-orang kaya pedesaan, para tengkulak, lintah-darat, dan semuanya itu meningkatkan revolusi ke tahapan sosialis. Jika kita berusaha mendirikan sebuah “Tembok Cina” antara tahap pertama dan kedua, untuk memisahkan keduanya dengan alasan selain tingkatan kesiapan proletariat dan tingkatan persatuan atau kesatuan dengan para petani, berarti sangat mendistorsi Marxisme, menjadikannya vulgar, memindahkan liberalisme ke tempatnya semula.
Ketika Karl Marx dan Frederick Engel meramalkan bahwa revolusi sosialis akan terjadi pertama kali di negara-negara kapitalis maju, ini bukanlah permasalahan bagaimana sejarah berjalan (proceeded). Mereka belum melihat dampak super-profit Imperialis dan aristokrasi perburuhan yang melanda klas pekerja di negara-negara maju.
Kemenangan revolusi Rusia menunjukkan bahwa kapitalisme akan hancur di mata rantainya yang paling lemah. Paska revolusi Rusia, hal ini terulang lagi dan lagi, mulai dari Kuba sampai Nikaragua, dari Vietnam ke Granada, hingga menunggu waktu untuk memerahkan Eropa.
Sesungguhnya, revolusi-revolusi ini sangat mudah dipatahkan, jika Lenin tidak menganalisis ulang akan teorinya. Imperialisme akan memperbesar kekuatannya untuk mendapatkan kembali kontrol dan dominasinya atas negara-negara yang telah memutuskan hubungan dengan kapitalisme. Tahun 1918, negara imperialis melakukan intervensi militer untuk mendukung kapitalis kontra-revolusi di Rusia. Amerika Serikat juga telah melakukan (memimpin) blokade ekonomi selama 40 tahun terhadap Kuba, namun revolusi di sana masih bisa diselamatkan.
Lenin berkata di tahun 1912, “Kita selalu mengutamakan dan memperteguh kebenaran mendasar Marxisme—bahwa usaha penggabungan kaum buruh dari berbagai belahan negara-negara maju adalah dibutuhkan untuk kemenangan Sosialisme."
Di negara-negara terbelakang, pemerintahan sosialis masih menggantungkan diri pada segelintir administrator dan manajer ahli untuk menjalankan ekonomi. Di Rusia, dominasi dilakukan oleh badan birokrasi yang berbasis pada lapisan sosial yang mengambil kekuasaan, yang saat itu dipimpin oleh Joseph Stalin. Lantas yang terjadi kemudian adalah; pria berkumis lebat itu meluluh-lantakkan semua pemikiran-pemikiran Bolshevik tentang organisasi sosial, demokrasi partai, dan internasionalisme.
Sayangnya, banyak yang mengganggap ide-ide tersebut (stalinisme) adalah sosialisme. Teori Stalin yang sungguh keliru, “Building Socialism in One Country” (Sosialisme dalam satu negeri) digunakan untuk mengorbankan perjuangan sosialis di banyak negara demi mempertahankan kepentingan-kepentingan mendesak Uni-Soviet. Sesungguhnya, tipikal nasionalis chauvinis ini bukanlah ajaran-ajaran dari Lenin, apalagi Karl Marx. Dan sejarah kelam era-Stalin inilah yang terus dikunyah-kunyah oleh praktisi-praktisi anti-Marxis hingga saat ini.
Karena imperialisme adalah sebuah sistem penindasan yang berskala Internasional, maka dibutuhkan sebuah perjuangan yang berskala internasional pula. Internasionalisme revolusioner menurut Lenin berarti mendukung perjuangan melawan segala penindasan dan eksploitasi yang terjadi di berbagai penjuru dunia, termasuk pemerintahan kita sendiri



















29 Des 2015

PESAN DARI D.N AIDIT UNTUK PARA SASTRAWAN DAN SENIMAN INDONESIA


D.N Aidit tidak mati-mati. Begitupun dengan segala wejangan beliau. Saya sajikan salah satunya untuk kita, terutama yang bergerak di dalam bidang kesusastraan. Dikutip dari pidatonya di pembukaan Konfernas Sastra dan Seni Revolusioner, 27 Agustus 1964.
"Mungkin masih ada “kerikil” yang menyebabkan para sastrawan dan seniman kita belum keranjingan untuk menggarap tema-tema besar seperti pemberontakan 1926, tanah pembuangan Digul, pemberontakan “Zeven Provincien”, Revolusi Agustus 1945, pembasmian “PRRI-Permesta”, penghancuran DI-TII, pembebasan Irian Barat dan tema-tema lain yang dapat membangkitkan kebanggaan nasional, misalnya karena melihat adanya kelemahan-kelemahan pada tiap-tiap perjuangan itu. Pemberontakan 1926 adalah pemberontakan yang gagal, di antara orang-orang yang dibuang ke Digul ada yang menyerah kepada Belanda. Pemberontakan “Zeven Provincien” juga gagal. Revolusi Agustus berlangsung tanpa pimpinan yang sadar dari proletariat. “PRRI-Permesta” dan DI-TII diselesaikan dengan kompromi, dan Irian Barat bebas dengan campur tangan Bunker dari Amerika Serikat. Inilah yang mungkin menjadi “kerikil” sehingga tidak menimbulkan rangsang untuk menulis. Jika benar ini yang menjadi sebab, maka sama sekali tidak beralasan. Kegagalan sesuatu pemberontakan revolusioner tidaklah berarti bahwa pemberontakan itu salah, dan sekalipun ia gagal, ia tetap melahirkan pahlawan-pahlawan. Kelemahan beberapa gelintir orang dalam pembuangan tidaklah berarti semua orang buangan revolusioner menjadi pengkhianat dan lemah jiwa seperti coba digambarkan oleh Sutan Sjahrir dalam bukunya “Indonesische Overpeinzingen” (Renungan Indonesia). Biarlah Sutan Sjahrir merenung-renung, tapi sastrawan dan seniman revolusioner harus menuliskan kepahlawanan orang-orang revolusioner tanah pembuangan Digul itu. Jika sesuatu perjuangan “diselesaikan” dengan kompromi, sudah pasti yang berkompromi bukanlah rakyat, dan korban sudah banyak berjatuhan, pahlawan sudah banyak dilahirkan. Jika sesuatu pemberontakan, sesuatu revolusi atau sesuatu aksi gagal atau tidak mencapai tujuan yang sepenuhnya karena tanpa pimpinan yang sadar, ini tidaklah berarti bahwa pemberontakan, revolusi atau aksi itu salah, tidaklah berarti bahwa tidak ada perbuatan kepahlawanan yang harus ditulis. Tentang ketiadaan pimpinan yang sadar dari PKI, justru itu yang juga harus diungkapkan agar lain kali pimpinan dilakukan sesadar-sadarnya oleh PKI. Saya mengetok hati kawan-kawan dengan harapan supaya dalam waktu yang tidak terlalu lama pahlawan-pahlawan yang sudah berjatuhan dan yang masih hidup itu menambah semaraknya perjuangan revolusioner Rakyat Indonesia lewat karya kawan-kawan.
Siapakah yang bersalah jika ada orang yang mengira bahwa nama “Aliarcham” ada hubungannya dengan “Al Azhar”? Bahwa Akademi Ilmu Sosial “Aliarcham” di Jakarta dikira berafiliasi dengan Universitas Al Azhar di Kairo? Tentu bukan salah ayah dan ibu Aliarcham yang memberi nama Arab kepada anaknya, tetapi karena pahlawan rakyat tidak diperkenalkan kepada rakyat yang memiliki pahlawan itu oleh mereka yang harus memperkenalkannya. Sekarang banyak universitas dan akademi memakai nama pahlawan. Ini baik sekali, menandakan bahwa kita generasi sekarang tidak menyia-nyiakan pahlawan-pahlawan kita. Tetapi berapa banyak orang yang mengetahui perbuatan kepahlawanan mereka? Dalam perjuangan yang bagaimana mereka tampil sebagai pahlawan?
Kira-kira sepuluh tahun yang lalu pernah gambar penulis Soviet Ilya Ehrenburg diarak dalam suatu demonstrasi 1 Mei. Kalau kita mau berterus-terang, berapalah jumlah buku Ehrenburg di negeri kita ini, berapa orang yang sudah membacanya, berapa pula yang membacanya tamat, dan di antara yang membacanya tamat itu berapa orang yang berhasil menarik pelajaran untuk revolusi Indonesia, khususnya untuk perkembangan sastra dan seni revolusioner Indonesia. Jumlah bukunya yang beredar hanya sedikit sekali, yang tamat membacanya bisa dihitung dengan jari dan yang membaca dengan berhasil menarik pelajaran untuk kepentingan revolusi Indonesia mungkin tidak ada. Tapi gambar Ehrenburg diarak. Gejala apa ini, kalau bukan gejala dogmatisme dan formalisme. Karena Ehrenburg seorang penulis Soviet, sedangkan Soviet itu adalah baik, karya-karyanya dikira juga baik, dan oleh karena itu gambarnya diarak sekalipun yang mengarak dan yang menyuruh mengarak tidak tahu apa-apa tentang karya Ehrenburg.
Masih ada lagi sastrawan dan seniman luar negeri yang pernah dipuja-puja oleh sementara orang revolusioner negeri kita dengan tidak memikirkan betapa hubungannya dengan revolusi kita dan dengan perkembangan sastra dan seni revolusioner kita. Saya tidak berbicara tentang apa yang terjadi di kalangan mereka yang tidak revolusioner, karena memuja segala yang datang dari luar negeri, termasuk juga memuja penyebar-penyebar segala yang bertentangan dengan kepentingan revolusi Indonesia, adalah biasa dan akan terus menjadi kebiasaan mereka.
Kita kaum Komunis bisa dan harus pandai menilai dan menghargai karya-karya sastra dan seni progresif dari luar negeri. Tetapi penilaian dan penghargaan kita pertama-tama harus dilihat dari segi hubungannya dengan kepentingan revolusi Indonesia dan tidak boleh berakibat menganggap rendah sastrawan dan seniman kita sendiri serta karya-karyanya. Perkenalan kita dengan karya-karya sastrawan dan seniman progresif luar negeri harus menjadi perangsang bagi kita guna mengenal lebih baik sastrawan dan seniman kita sendiri, guna meningkatkan kesadaran kita tentang keharusan memberi tempat dan penghargaan yang wajar kepada sastrawan dan seniman kita yang sudah tidak ada lagi, serta mendorong maju ke pekerjaan sastrawan dan seniman kita sekarang."

9 Nov 2015

7 November, 98 Tahun yang Lalu

7 November, 98 tahun yang lalu, adalah hari bagi kemenangan Revolusi Rusia 1917. Lelaki botak bermata Tar-Tar, Vladimir Ilyich Lenin, berhasil mengombinasikan kepemimpinan praksis revolusioner dengan sumbangan teoritis yang penting bagi pemahaman sosialis tentang dunia dan bagaimana mengubahnya. Dua kontribusi teoritisnya yang paling penting adalah tentang Imperialisme dan strategi revolusioner di negara-negara terbelakang yang tereksploitasi. Mari kita bahas satu per satu.
Imperialisme:
Saat ini dunia masih didominasi oleh sebuah sistem yang membaginya dalam dua pihak, kaya dan miskin, yang mengeksploitasi dan yang dieksploitasi--tidak hanya antar bangsa, tapi juga diantara bangsa itu sendiri. Sistem yang memaksa orang (klas pekerja atau proletariat) untuk bekerja agar bisa tetap hidup di bawah kontrol mereka (klas penguasa atau borjuasi) yang memiliki semua industri-industri kunci. Klas penguasa dari berbagai bangsa yang berbeda bersaing untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar dengan mengeksploitasi yang lainnya demi keuntungan kapital. Watak dasar sistem inilah yang dianalisa oleh Lenin di tahun 1916. Sebuah kejadian yang menguatkan pembangunan teori Lenin adalah Perang Dunia I, kaum Marxis memahaminya sebagai pertempuran di antara klas penguasa di negara-negara kapitalis maju untuk meraih kontrol sepenuhnya atas dunia beserta sumber daya alamnya.Telah banyak peperangan yang terjadi di abad ini karena pertempuran yang sama, demi pasar yang lebih besar untuk penjualan produk mereka, dan kontrol yang lebih besar atas sumber daya alam dan kaum buruh yang bisa diperbudak.
Salah satu faktor disebutnya sebuah negara sebagai imperialis adalah klas penguasa di suatu negara memunyai modal atau keuntungan yang dapat digunakan untuk investasi di negara lain; investasi itu untuk membeli bahan mentah dan buruh yang ada di negara tempat investasi, dan untuk mengisap laba dari mereka.
Negara Imperialis mulai mendominasi negara dunia ketiga melalui kontrol penjajahan langsung. Sekarang kontrol mereka itu kebanyakan mengambil bentuk dominasi ekonomi atau modal. Kucuran utang yang diberikan bank-bank negara maju kepada Dunia Ketiga yang dipaksakan untuk membiayai "pembangunan" dengan menggunakan pinjaman tersebut, memaksa negara-negara Dunia Ketiga tersebut untuk mengijinkan perusahaan-perusahaan dari negara-negara imperialis untuk mengeksploitasi secara massif sumber daya alam dan kaum buruh mereka.
Pembagi-bagian dunia oleh kaum imperialis menyediakan sebuah lahan permanen bagi kapitalisme untuk mengeksploitasi secara massif klas pekerja. Sebagai contoh, Nike membayar buruhnya sebesar 25 sen dollar Australia perhari di pabrik mereka yang berada di Indonesia, tapi mereka menjual sepatunya di negara-negara maju seharga ratusan dollar.
Imperialisme mengurung negara dunia ketiga --lebih dari 4 per 5 populasi dunia- dalam kemelaratan, namun mereka mengingkarinya secara sistematis, dengan argumen teknologi dan bantuan finansial yang diberikan itu dibutuhkan untuk pembangunan.
Keuntungan besar bagi klas penguasa di negara-negara imperialis dengan digunakannya sistem ini, memungkinkan kaum penindas itu untuk memperoleh sebuah derajat ketentraman sosial tertentu di negara-negara Dunia Pertama, khususnya Amerika, dengan menyediakan dalam kadar tertentu hak-hak istimewa, yang mengilusi banyak pekerja untuk mempertahankan sistem keuntungan individual. Lenin menyebut lapisan ini (yang terilusi dan menjadi antek kapitalis) sebagai “Aristokrat buruh”, yang seringkali merasa diri bukanlah bagian dari klas pekerja. Ilusi untuk mempertahankan sistem kapitalisme melanda negara-negara Dunia Pertama.
Biasanya, klas penguasa menggunakan kebanggaan nasionalisme untuk menghancurkan solidaritas para pekerja yang ada di negara Imperialis terhadap penindasan yang menimpa kaum buruh di negara Dunia Ketiga; terindoktrinisasi dalam apa yang disebut Wajib Militer. Karena mereka tahu, rasa solidaritas itulah yang dapat memenangkan perjuangan melawan eksploitasi imperialis. Rasisme biasanya juga digunakan untuk memecah-belah buruh-buruh di negara Dunia Pertama dan Ketiga.
Di negara-negara otoriter, sistem ini dipaksakan dengan cara-cara yang lebih brutal seperti kediktatoran, aturan-aturan militer yang hanya menguntungkan klas kapitalis, dan juga represi.
Lalu apa strategi yang diterapkan oleh Lenin pada saat itu?
Lenin menggunakan pengalamannya dalam membangun gerakan revolusioner di Rusia untuk memformulasikan teorinya tentang strategi revolusioner di negara-negara terbelakang.
Tugas terberat kaum revolusioner pada masa kekaisaran Rusia adalah memenangkan kesadaran yang ada pada klas pekerja, dan keterlibatan aktif mereka dalam proses revolusi. Mayoritas rakyat Rusia bukanlah buruh, melainkan para petani yang berada pada taraf subsistensi pra-industrial, dan hak-hak demokratik pun, meskipun bersifat terbatas, ditolak oleh Rezim represif Tsar.
Di Rusia tidak ada syarat untuk melahirkan Revolusi Borjuis seperti yang terjadi di negara-negara Eropa Barat, di mana aturan-aturan monarki digantikan oleh parlemen yang terpilih. Adanya parlemen ini merefleksikan pertumbuhan kekuatan ekonomi di bidang politik, dan mereka, klas borjuis, menjadi klas penguasa yang baru. Borjuasi Rusia secara ekonomis sangat lemah, dan secara politis mereka takut untuk bekerja sama dengan klas buruh dan tani dalam revolusi borjuis.
Menurut teori “Uninterrupted Revolution“ (revolusi berkelanjutan) yang dikembangkan oleh Lenin, tahapan yang pertama adalah keterlibatan klas pekerja dan seluruh petani dalam penggulingan Tsar dan pembentukan sebuah republik demokratik. Yang kedua, tahapan sosialis yang melibatkan buruh yang bersatu dengan para petani miskin untuk melawan para kulak (tuan tanah).
Untuk memudahkan dan menerapkan tahapan yang pertama, Bolshevik meyakini sebuah sistem yang didasarkan pada perwakilan-perwakilan (soviet) buruh dan tani yang dipilih oleh rakyat. Sistem pemerintahan inilah yang akhirnya diterapkan setelah revolusi 1917.
Reformasi agraria akan tuntas ketika kontrol atau kepemilikan tanah yang dipegang oleh tuan-tuan tanah diambil-alih oleh para petani penggarap. Bagaimanapun, Lenin percaya bahwa para petani miskin tidak akan segera menyadari perbedaan kepentingan mereka dengan petani kaya, dan oleh karena itu, mereka juga tidak akan segera mendukung langkah-langkah sosialis seperti kolektivisasi tanah.
Dalam tahap kedua, kekuasaan politik digunakan oleh klas pekerja untuk memperoleh kontrol ekonomi secara langsung, dan untuk membantu para petani miskin dalam pengambil-alihan atas kontrol tanah.
Pada tahun 1918 Lenin menulis: “Sesuatu telah berubah seperti yang dulu kita katakan. Pelajaran yang didapat dari revolusi telah menegaskan kebenaran penjelasan atas argumen-argumen kita. Pertama, dengan kaum tani melawan monarki, melawan tuan-tuan tanah, melawan pemikiran abad pertengahan atau mediavalism (dan untuk meningkatkan revolusi terhadap sisa-sisa borjuasi, demokratik borjuis). Kemudian bersama dengan kaum petani miskin, semi-proletariat, dan semua yang tereksploitasi, mereka akan berperang membantai kapitalisme, termasuk orang-orang kaya pedesaan, para tengkulak, lintah-darat, dan semuanya itu meningkatkan revolusi ke tahapan sosialis. Jika kita berusaha mendirikan sebuah “Tembok Cina” antara tahap pertama dan kedua, untuk memisahkan keduanya dengan alasan selain tingkatan kesiapan proletariat dan tingkatan persatuan atau kesatuan dengan para petani, berarti sangat mendistorsi Marxisme, menjadikannya vulgar, memindahkan liberalisme ke tempatnya semula.
Ketika Karl Marx dan Frederick Engel meramalkan bahwa revolusi sosialis akan terjadi pertama kali di negara-negara kapitalis maju, ini bukanlah permasalahan bagaimana sejarah berjalan (proceeded). Mereka belum melihat dampak super-profit Imperialis dan aristokrasi perburuhan yang melanda klas pekerja di negara-negara maju.
Kemenangan revolusi Rusia menunjukkan bahwa kapitalisme akan hancur di mata rantainya yang paling lemah. Paska revolusi Rusia, hal ini terulang lagi dan lagi, mulai dari Kuba sampai Nikaragua, dari Vietnam ke Granada, hingga menunggu waktu untuk memerahkan Eropa.
Sesungguhnya, revolusi-revolusi ini sangat mudah dipatahkan, jika Lenin tidak menganalisis ulang akan teorinya. Imperialisme akan memperbesar kekuatannya untuk mendapatkan kembali kontrol dan dominasinya atas negara-negara yang telah memutuskan hubungan dengan kapitalisme. Tahun 1918, negara imperialis melakukan intervensi militer untuk mendukung kapitalis kontra-revolusi di Rusia. Amerika Serikat juga telah melakukan (memimpin) blokade ekonomi selama 40 tahun terhadap Kuba, namun revolusi di sana masih bisa diselamatkan.
Lenin berkata di tahun 1912, “Kita selalu mengutamakan dan memperteguh kebenaran mendasar Marxisme—bahwa usaha penggabungan kaum buruh dari berbagai belahan negara-negara maju adalah dibutuhkan untuk kemenangan Sosialisme."
Di negara-negara terbelakang, pemerintahan sosialis masih menggantungkan diri pada segelintir administrator dan manajer ahli untuk menjalankan ekonomi. Di Rusia, dominasi dilakukan oleh badan birokrasi yang berbasis pada lapisan sosial yang mengambil kekuasaan, yang saat itu dipimpin oleh Joseph Stalin. Lantas yang terjadi kemudian adalah; pria berkumis lebat itu meluluh-lantakkan semua pemikiran-pemikiran Bolshevik tentang organisasi sosial, demokrasi partai, dan internasionalisme.
Sayangnya, banyak yang mengganggap ide-ide tersebut (stalinisme) adalah sosialisme. Teori Stalin yang sungguh keliru, “Building Socialism in One Country” (Sosialisme dalam satu negeri) digunakan untuk mengorbankan perjuangan sosialis di banyak negara demi mempertahankan kepentingan-kepentingan mendesak Uni-Soviet. Sesungguhnya, tipikal nasionalis chauvinis ini bukanlah ajaran-ajaran dari Lenin, apalagi Karl Marx. Dan sejarah kelam era-Stalin inilah yang terus dikunyah-kunyah oleh praktisi-praktisi anti-Marxis hingga saat ini.
Karena imperialisme adalah sebuah sistem penindasan yang berskala Internasional, maka dibutuhkan sebuah perjuangan yang berskala internasional pula. Internasionalisme revolusioner menurut Lenin berarti mendukung perjuangan melawan segala penindasan dan eksploitasi yang terjadi di berbagai penjuru dunia, termasuk pemerintahan kita sendiri