Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

9 Nov 2015

7 November, 98 Tahun yang Lalu

7 November, 98 tahun yang lalu, adalah hari bagi kemenangan Revolusi Rusia 1917. Lelaki botak bermata Tar-Tar, Vladimir Ilyich Lenin, berhasil mengombinasikan kepemimpinan praksis revolusioner dengan sumbangan teoritis yang penting bagi pemahaman sosialis tentang dunia dan bagaimana mengubahnya. Dua kontribusi teoritisnya yang paling penting adalah tentang Imperialisme dan strategi revolusioner di negara-negara terbelakang yang tereksploitasi. Mari kita bahas satu per satu.
Imperialisme:
Saat ini dunia masih didominasi oleh sebuah sistem yang membaginya dalam dua pihak, kaya dan miskin, yang mengeksploitasi dan yang dieksploitasi--tidak hanya antar bangsa, tapi juga diantara bangsa itu sendiri. Sistem yang memaksa orang (klas pekerja atau proletariat) untuk bekerja agar bisa tetap hidup di bawah kontrol mereka (klas penguasa atau borjuasi) yang memiliki semua industri-industri kunci. Klas penguasa dari berbagai bangsa yang berbeda bersaing untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar dengan mengeksploitasi yang lainnya demi keuntungan kapital. Watak dasar sistem inilah yang dianalisa oleh Lenin di tahun 1916. Sebuah kejadian yang menguatkan pembangunan teori Lenin adalah Perang Dunia I, kaum Marxis memahaminya sebagai pertempuran di antara klas penguasa di negara-negara kapitalis maju untuk meraih kontrol sepenuhnya atas dunia beserta sumber daya alamnya.Telah banyak peperangan yang terjadi di abad ini karena pertempuran yang sama, demi pasar yang lebih besar untuk penjualan produk mereka, dan kontrol yang lebih besar atas sumber daya alam dan kaum buruh yang bisa diperbudak.
Salah satu faktor disebutnya sebuah negara sebagai imperialis adalah klas penguasa di suatu negara memunyai modal atau keuntungan yang dapat digunakan untuk investasi di negara lain; investasi itu untuk membeli bahan mentah dan buruh yang ada di negara tempat investasi, dan untuk mengisap laba dari mereka.
Negara Imperialis mulai mendominasi negara dunia ketiga melalui kontrol penjajahan langsung. Sekarang kontrol mereka itu kebanyakan mengambil bentuk dominasi ekonomi atau modal. Kucuran utang yang diberikan bank-bank negara maju kepada Dunia Ketiga yang dipaksakan untuk membiayai "pembangunan" dengan menggunakan pinjaman tersebut, memaksa negara-negara Dunia Ketiga tersebut untuk mengijinkan perusahaan-perusahaan dari negara-negara imperialis untuk mengeksploitasi secara massif sumber daya alam dan kaum buruh mereka.
Pembagi-bagian dunia oleh kaum imperialis menyediakan sebuah lahan permanen bagi kapitalisme untuk mengeksploitasi secara massif klas pekerja. Sebagai contoh, Nike membayar buruhnya sebesar 25 sen dollar Australia perhari di pabrik mereka yang berada di Indonesia, tapi mereka menjual sepatunya di negara-negara maju seharga ratusan dollar.
Imperialisme mengurung negara dunia ketiga --lebih dari 4 per 5 populasi dunia- dalam kemelaratan, namun mereka mengingkarinya secara sistematis, dengan argumen teknologi dan bantuan finansial yang diberikan itu dibutuhkan untuk pembangunan.
Keuntungan besar bagi klas penguasa di negara-negara imperialis dengan digunakannya sistem ini, memungkinkan kaum penindas itu untuk memperoleh sebuah derajat ketentraman sosial tertentu di negara-negara Dunia Pertama, khususnya Amerika, dengan menyediakan dalam kadar tertentu hak-hak istimewa, yang mengilusi banyak pekerja untuk mempertahankan sistem keuntungan individual. Lenin menyebut lapisan ini (yang terilusi dan menjadi antek kapitalis) sebagai “Aristokrat buruh”, yang seringkali merasa diri bukanlah bagian dari klas pekerja. Ilusi untuk mempertahankan sistem kapitalisme melanda negara-negara Dunia Pertama.
Biasanya, klas penguasa menggunakan kebanggaan nasionalisme untuk menghancurkan solidaritas para pekerja yang ada di negara Imperialis terhadap penindasan yang menimpa kaum buruh di negara Dunia Ketiga; terindoktrinisasi dalam apa yang disebut Wajib Militer. Karena mereka tahu, rasa solidaritas itulah yang dapat memenangkan perjuangan melawan eksploitasi imperialis. Rasisme biasanya juga digunakan untuk memecah-belah buruh-buruh di negara Dunia Pertama dan Ketiga.
Di negara-negara otoriter, sistem ini dipaksakan dengan cara-cara yang lebih brutal seperti kediktatoran, aturan-aturan militer yang hanya menguntungkan klas kapitalis, dan juga represi.
Lalu apa strategi yang diterapkan oleh Lenin pada saat itu?
Lenin menggunakan pengalamannya dalam membangun gerakan revolusioner di Rusia untuk memformulasikan teorinya tentang strategi revolusioner di negara-negara terbelakang.
Tugas terberat kaum revolusioner pada masa kekaisaran Rusia adalah memenangkan kesadaran yang ada pada klas pekerja, dan keterlibatan aktif mereka dalam proses revolusi. Mayoritas rakyat Rusia bukanlah buruh, melainkan para petani yang berada pada taraf subsistensi pra-industrial, dan hak-hak demokratik pun, meskipun bersifat terbatas, ditolak oleh Rezim represif Tsar.
Di Rusia tidak ada syarat untuk melahirkan Revolusi Borjuis seperti yang terjadi di negara-negara Eropa Barat, di mana aturan-aturan monarki digantikan oleh parlemen yang terpilih. Adanya parlemen ini merefleksikan pertumbuhan kekuatan ekonomi di bidang politik, dan mereka, klas borjuis, menjadi klas penguasa yang baru. Borjuasi Rusia secara ekonomis sangat lemah, dan secara politis mereka takut untuk bekerja sama dengan klas buruh dan tani dalam revolusi borjuis.
Menurut teori “Uninterrupted Revolution“ (revolusi berkelanjutan) yang dikembangkan oleh Lenin, tahapan yang pertama adalah keterlibatan klas pekerja dan seluruh petani dalam penggulingan Tsar dan pembentukan sebuah republik demokratik. Yang kedua, tahapan sosialis yang melibatkan buruh yang bersatu dengan para petani miskin untuk melawan para kulak (tuan tanah).
Untuk memudahkan dan menerapkan tahapan yang pertama, Bolshevik meyakini sebuah sistem yang didasarkan pada perwakilan-perwakilan (soviet) buruh dan tani yang dipilih oleh rakyat. Sistem pemerintahan inilah yang akhirnya diterapkan setelah revolusi 1917.
Reformasi agraria akan tuntas ketika kontrol atau kepemilikan tanah yang dipegang oleh tuan-tuan tanah diambil-alih oleh para petani penggarap. Bagaimanapun, Lenin percaya bahwa para petani miskin tidak akan segera menyadari perbedaan kepentingan mereka dengan petani kaya, dan oleh karena itu, mereka juga tidak akan segera mendukung langkah-langkah sosialis seperti kolektivisasi tanah.
Dalam tahap kedua, kekuasaan politik digunakan oleh klas pekerja untuk memperoleh kontrol ekonomi secara langsung, dan untuk membantu para petani miskin dalam pengambil-alihan atas kontrol tanah.
Pada tahun 1918 Lenin menulis: “Sesuatu telah berubah seperti yang dulu kita katakan. Pelajaran yang didapat dari revolusi telah menegaskan kebenaran penjelasan atas argumen-argumen kita. Pertama, dengan kaum tani melawan monarki, melawan tuan-tuan tanah, melawan pemikiran abad pertengahan atau mediavalism (dan untuk meningkatkan revolusi terhadap sisa-sisa borjuasi, demokratik borjuis). Kemudian bersama dengan kaum petani miskin, semi-proletariat, dan semua yang tereksploitasi, mereka akan berperang membantai kapitalisme, termasuk orang-orang kaya pedesaan, para tengkulak, lintah-darat, dan semuanya itu meningkatkan revolusi ke tahapan sosialis. Jika kita berusaha mendirikan sebuah “Tembok Cina” antara tahap pertama dan kedua, untuk memisahkan keduanya dengan alasan selain tingkatan kesiapan proletariat dan tingkatan persatuan atau kesatuan dengan para petani, berarti sangat mendistorsi Marxisme, menjadikannya vulgar, memindahkan liberalisme ke tempatnya semula.
Ketika Karl Marx dan Frederick Engel meramalkan bahwa revolusi sosialis akan terjadi pertama kali di negara-negara kapitalis maju, ini bukanlah permasalahan bagaimana sejarah berjalan (proceeded). Mereka belum melihat dampak super-profit Imperialis dan aristokrasi perburuhan yang melanda klas pekerja di negara-negara maju.
Kemenangan revolusi Rusia menunjukkan bahwa kapitalisme akan hancur di mata rantainya yang paling lemah. Paska revolusi Rusia, hal ini terulang lagi dan lagi, mulai dari Kuba sampai Nikaragua, dari Vietnam ke Granada, hingga menunggu waktu untuk memerahkan Eropa.
Sesungguhnya, revolusi-revolusi ini sangat mudah dipatahkan, jika Lenin tidak menganalisis ulang akan teorinya. Imperialisme akan memperbesar kekuatannya untuk mendapatkan kembali kontrol dan dominasinya atas negara-negara yang telah memutuskan hubungan dengan kapitalisme. Tahun 1918, negara imperialis melakukan intervensi militer untuk mendukung kapitalis kontra-revolusi di Rusia. Amerika Serikat juga telah melakukan (memimpin) blokade ekonomi selama 40 tahun terhadap Kuba, namun revolusi di sana masih bisa diselamatkan.
Lenin berkata di tahun 1912, “Kita selalu mengutamakan dan memperteguh kebenaran mendasar Marxisme—bahwa usaha penggabungan kaum buruh dari berbagai belahan negara-negara maju adalah dibutuhkan untuk kemenangan Sosialisme."
Di negara-negara terbelakang, pemerintahan sosialis masih menggantungkan diri pada segelintir administrator dan manajer ahli untuk menjalankan ekonomi. Di Rusia, dominasi dilakukan oleh badan birokrasi yang berbasis pada lapisan sosial yang mengambil kekuasaan, yang saat itu dipimpin oleh Joseph Stalin. Lantas yang terjadi kemudian adalah; pria berkumis lebat itu meluluh-lantakkan semua pemikiran-pemikiran Bolshevik tentang organisasi sosial, demokrasi partai, dan internasionalisme.
Sayangnya, banyak yang mengganggap ide-ide tersebut (stalinisme) adalah sosialisme. Teori Stalin yang sungguh keliru, “Building Socialism in One Country” (Sosialisme dalam satu negeri) digunakan untuk mengorbankan perjuangan sosialis di banyak negara demi mempertahankan kepentingan-kepentingan mendesak Uni-Soviet. Sesungguhnya, tipikal nasionalis chauvinis ini bukanlah ajaran-ajaran dari Lenin, apalagi Karl Marx. Dan sejarah kelam era-Stalin inilah yang terus dikunyah-kunyah oleh praktisi-praktisi anti-Marxis hingga saat ini.
Karena imperialisme adalah sebuah sistem penindasan yang berskala Internasional, maka dibutuhkan sebuah perjuangan yang berskala internasional pula. Internasionalisme revolusioner menurut Lenin berarti mendukung perjuangan melawan segala penindasan dan eksploitasi yang terjadi di berbagai penjuru dunia, termasuk pemerintahan kita sendiri



















3 Mar 2015

Bukti-bukti PKI Adalah Otak G/30/S

SAAT PERTAMA KALI kali mendengar siaran RRI 1 Oktober, Soeharto dalam buku: “Pikiran, ucapan, dan tidakan saya” berkata: “Deg, saya segera mendapatkan firasat. Lagipula saya tahu siapa itu Letkol Untung. Saya ingat, dia dekat dengan PKI, malahan pernah jadi anak didik tokoh PKI, Alimin.” Ia hendak menyatakan: telah menduga bahwa PKI lah yang mengorganisir G/30/S bahkan saat para jenderal yang masih hidup belum dieksekusi mati. Waw! Betapa maha-hebatnya firasat sang Jenderal yang satu ini!
Saat berkumpul di markas Kostrad, pagi hari 1 Oktober, beberapa perwira masih ragu dengan pernyataan Soeharto tadi. Namun, Yoga Sugama mendukung pernyataan Soeharto dan bersiap untuk mencari bukti-buktinya. Betapa kompaknya kedua orang ini. Kelak, dalam memoarnya, Yoga Sugama menyombongkan diri sebagai orang pertama yang meyakinkan Soeharto bahwa PKI bersalah sehingga merubah firasat Soeharto menjadi keyakinan yang tak tergoyahkan. Penuturan Sugama itu memberi kesan bahwa ia dan Soeharto sudah menengarai sang dalang G/30/S bahkan sebelum mendapatkan satu pun bukti yang pasti.
Besoknya, Brigjend Sucipto membentuk organisasi sipil dengan nama Kesatuan Aksi Pengganyangan G/30/S (KAP-Gestapu) yang dipimpin oleh Subchan Z.E. dari NU. Lelaki yang terakhir dikenal sangat dekat dengan militer anti-PKI bahkan sebelum G/30/S meletus. 
Pada tanggal 5 oktober (HUT ABRI) Angkatan Darat menerbitkan buku setebal 130 halaman yang disusun cepat, berisi catatan rangkaian kejadian dan dengan sangat percaya diri menuduh PKI sebagai dalang. Padahal sampai saat itu, tak ada satu pun bukti yang bisa menguatkan. Tuduhan-tuduhan di dalam buku hanya semata-mata analisis tanpa bukti yang bisa dikategorikan sebagai fitnah.
Melalui corong radio, Mayjend Soeharto mengerahkan atau menganjurkan massa sipil sambil menyebarkan propaganda anti-PKI melalui pers (yang seluruhnya sudah di bawah kendali Angkatan Darat sejak akhir pekan pertama Oktober). Sebuah kisah sensasional melukiskan bagaimana Pemuda Rakjat dan Gerwani menyiksa, menyayat-nyayat, sampai memotong kemaluan para jenderal. Dua hari kemudian, massa seperti merespon berita ‘pesta lubang buaya’ dengan kemarahan yang membludak: membakar habis gedung CC-PKI di Jalan Kramat Raya Jakarta.
Bahkan setelah pembantaian kaum komunis mulai dilaksanakan (akhir 1965 dan awal 1966), masyarakat belum memperoleh bukti yang shahih bahwa PKI mendalangi G/30/S.
PKI memang mendukung G/30/S, sebagaimana terlihat dalam editorial Harian Rakjat pada 2 Oktober 1965, yang memuji G/30/S sebagai aksi patriotik dan revolusioner.  Tapi bagaimanapun, koran itu tidak memberikan bukti apa pun bahwa PKI lah yang mengorganisir G/30/S, terutama karena harian itu menyatakan bahwa: “G/30/S adalah masalah intern dalam Angkatan Darat.”
Pusat Penerangan angkatan Darat menerbitkan tiga jilid seri buku dari Oktober sampai Desember 1965, dengan maksud hendak membuktikan bahwa PKI adalah dalang G/30/S. bukti-bukti dalam buku ini tidak substansial dan handal. Bukti utama adalah pengakuan Letkol Untung (yang tertangkap di Jawa Tengah, 13 Oktober) dan Kolonel Latief (tertangkap 11 Oktober di Jakarta), bahwa mereka adalah antek-antek PKI. Namun, pada sidang pembelaannya dua tahun kemudian,  Latief mengatakan waktu itu ia berada dalam kondisi setengah sadar akibat luka di kaki yang membusuk karena tusukan bayonet. Dalam mahkam pengadilan di belahan dunia mana pun, kesakisan yang diperoleh di bawah tekanan dan dengan siksaan tidak dapat diterima. Dalam sidang Mahmilub kemudian, Untung dan Latief menyangkal hasil interogasi pada Oktober 1965, dan bersikeras bahwa merekalah yang memimpin G/30/S. PKI, mereka menegaskan, diajak ikut serta hanya sebagai tenaga bantuan.
Kita harus curiga ketika tuduhan sebagian didasarkan atas propaganda palsu (penyiksaan para jenderal)  dan sebagian lagi atas kesaksian yang diperoleh melalui siksaan. Pengakuan dua tokoh PKI (Njono dan Aidit) yang diterbitkan oleh pers Angkatan Darat pada akhir 1965 merupakan pemalsuan yang bersifat pemaksaan untuk mendukung propaganda mereka (itu sebabnya pengakuan Aidit tersebut tak pernah lagi menjadi acuan dalam penulisan sejarah G/30/S).
Mungkin, satu-satunya bukti dari Angkatan Darat yang layak diperdebatkan adalah pengakuan seorang agen Biro Chusus PKI yang bernama Sjam atau Kamaruzaman atau Tjugito. Namun lagi-lagi di sini Angkatan Darat menjadi hiperbola dengan melebih-lebihkan pernyataan Sjam. Sjam menyatakan bahwa hanya Aidit melalui Biro Chusus memerintahkannya untuk mengorganisasi G/30/S, namun Angkatan Darat menyiarkan bahwa Commite Central PKI lah yang mengorganisir gerakan. Sjam melukiskan bahwa G/30/S adalah pembersihan jenderal-jenderal sayap kanan yang bekerja untuk kekuatan pihak asing, sementara Angkatan Darat meyakinkan hal itu adalah suatu kudeta, awal dari niat PKI untuk melaksanakan revolusi sosial. AD harus menunjuk CC-PKI sebagai otak untuk membenarkan kehebatan penindasan mereka terhadap massa komunis di seluruh negeri. 
Satu cacat kasat mata dalam narasi rezim Soeharto pasca-1967 tentang Biro-Chusus adalah satu-satunya bukti mereka yang handal adalah kesaksian seseorang yang mengakui bahwa: menipu adalah pekerjaanya. Sjam, seorang tokoh tak dikenal, tak pernah muncul sebagai pemimpin PKI. Ia mengaku bahwa dirinya sangat dipercaya oleh Aidit sehingga ditugasi untuk masuk ke dalam tubuh Angkatan Darat. Seorang agen intelligen yang harus menipu dalam pekerjaannya menjadi satu-satunya bukti handal!
Jika rezim Soeharto bersungguh-sungguh dalam pengumpulan bukti tentang keterlibatan PKI, ia tak akan bergegas-gegas mengeksekusi empat pimpinan pucak PKI. DN Aidit , justru tokoh yang rezim Soeharto dinyatakan sebagai dalang, ditembak mati di sebuah tempat rahasian di Jawa Tengah pada 22 November 1965. Hal ini membuat kita tergelitik untuk bertanya: apakah pengadilan pura-pura yang di selenggarakan Soeharto begitu takutnya bila Aidit ‘mengamuk’ di dalam persidangan seperti yang pernah ia lakukan dahulu saat diajukan ke pengadilan oleh Muhammad Hatta karena kasus Madiun affair? (di situ Aidit dinyatakan tidak bersalah dan Hatta terpaksa mencabut tuntutannya)
Jadi apa buktinya PKI sebagai instansi adalah otak dalam G/30/S? Seperti yang dinyatakan oleh John Roosa:  
Pada akhirnya, satu-satunya bukti bahwa PKI memimpin G/30/S adalah karena Angkatan Darat menyatakan demikian.

Sumber:
Suharto, Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya.
Sugama, Memori Jenderal Yoga.
Pusat Penerangan Angkatan Darat, Fakta-fakta Persoalan Sekitar “Gerakan 30 September.” Penerbitan chusus no. 1, 5 Oktober 1965.
CIA Report No,22 from U.S Embassy in Jakarta to White House, 8 Oktober 1965.
“Berita Atjara Pemeriksaan,” Laporan interogasi Latief, 25 Oktober 1965. Interogator Kapten Hasan.
Anderson, Ben, “How Did the Generals Die?
“Gerakan 30 September” Dihadapan Mahmilub, Perkara Untung.
Hughes, “End of Sukarno”
Brackman, “Communist Collapse in Indonesia: The Gestapu Affair”
Aidit, “Menggugat Peristiwa Madiun”
Roosa, John, “Pretect for Mass Murder”

Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

9 Nov 2015

7 November, 98 Tahun yang Lalu

7 November, 98 tahun yang lalu, adalah hari bagi kemenangan Revolusi Rusia 1917. Lelaki botak bermata Tar-Tar, Vladimir Ilyich Lenin, berhasil mengombinasikan kepemimpinan praksis revolusioner dengan sumbangan teoritis yang penting bagi pemahaman sosialis tentang dunia dan bagaimana mengubahnya. Dua kontribusi teoritisnya yang paling penting adalah tentang Imperialisme dan strategi revolusioner di negara-negara terbelakang yang tereksploitasi. Mari kita bahas satu per satu.
Imperialisme:
Saat ini dunia masih didominasi oleh sebuah sistem yang membaginya dalam dua pihak, kaya dan miskin, yang mengeksploitasi dan yang dieksploitasi--tidak hanya antar bangsa, tapi juga diantara bangsa itu sendiri. Sistem yang memaksa orang (klas pekerja atau proletariat) untuk bekerja agar bisa tetap hidup di bawah kontrol mereka (klas penguasa atau borjuasi) yang memiliki semua industri-industri kunci. Klas penguasa dari berbagai bangsa yang berbeda bersaing untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar dengan mengeksploitasi yang lainnya demi keuntungan kapital. Watak dasar sistem inilah yang dianalisa oleh Lenin di tahun 1916. Sebuah kejadian yang menguatkan pembangunan teori Lenin adalah Perang Dunia I, kaum Marxis memahaminya sebagai pertempuran di antara klas penguasa di negara-negara kapitalis maju untuk meraih kontrol sepenuhnya atas dunia beserta sumber daya alamnya.Telah banyak peperangan yang terjadi di abad ini karena pertempuran yang sama, demi pasar yang lebih besar untuk penjualan produk mereka, dan kontrol yang lebih besar atas sumber daya alam dan kaum buruh yang bisa diperbudak.
Salah satu faktor disebutnya sebuah negara sebagai imperialis adalah klas penguasa di suatu negara memunyai modal atau keuntungan yang dapat digunakan untuk investasi di negara lain; investasi itu untuk membeli bahan mentah dan buruh yang ada di negara tempat investasi, dan untuk mengisap laba dari mereka.
Negara Imperialis mulai mendominasi negara dunia ketiga melalui kontrol penjajahan langsung. Sekarang kontrol mereka itu kebanyakan mengambil bentuk dominasi ekonomi atau modal. Kucuran utang yang diberikan bank-bank negara maju kepada Dunia Ketiga yang dipaksakan untuk membiayai "pembangunan" dengan menggunakan pinjaman tersebut, memaksa negara-negara Dunia Ketiga tersebut untuk mengijinkan perusahaan-perusahaan dari negara-negara imperialis untuk mengeksploitasi secara massif sumber daya alam dan kaum buruh mereka.
Pembagi-bagian dunia oleh kaum imperialis menyediakan sebuah lahan permanen bagi kapitalisme untuk mengeksploitasi secara massif klas pekerja. Sebagai contoh, Nike membayar buruhnya sebesar 25 sen dollar Australia perhari di pabrik mereka yang berada di Indonesia, tapi mereka menjual sepatunya di negara-negara maju seharga ratusan dollar.
Imperialisme mengurung negara dunia ketiga --lebih dari 4 per 5 populasi dunia- dalam kemelaratan, namun mereka mengingkarinya secara sistematis, dengan argumen teknologi dan bantuan finansial yang diberikan itu dibutuhkan untuk pembangunan.
Keuntungan besar bagi klas penguasa di negara-negara imperialis dengan digunakannya sistem ini, memungkinkan kaum penindas itu untuk memperoleh sebuah derajat ketentraman sosial tertentu di negara-negara Dunia Pertama, khususnya Amerika, dengan menyediakan dalam kadar tertentu hak-hak istimewa, yang mengilusi banyak pekerja untuk mempertahankan sistem keuntungan individual. Lenin menyebut lapisan ini (yang terilusi dan menjadi antek kapitalis) sebagai “Aristokrat buruh”, yang seringkali merasa diri bukanlah bagian dari klas pekerja. Ilusi untuk mempertahankan sistem kapitalisme melanda negara-negara Dunia Pertama.
Biasanya, klas penguasa menggunakan kebanggaan nasionalisme untuk menghancurkan solidaritas para pekerja yang ada di negara Imperialis terhadap penindasan yang menimpa kaum buruh di negara Dunia Ketiga; terindoktrinisasi dalam apa yang disebut Wajib Militer. Karena mereka tahu, rasa solidaritas itulah yang dapat memenangkan perjuangan melawan eksploitasi imperialis. Rasisme biasanya juga digunakan untuk memecah-belah buruh-buruh di negara Dunia Pertama dan Ketiga.
Di negara-negara otoriter, sistem ini dipaksakan dengan cara-cara yang lebih brutal seperti kediktatoran, aturan-aturan militer yang hanya menguntungkan klas kapitalis, dan juga represi.
Lalu apa strategi yang diterapkan oleh Lenin pada saat itu?
Lenin menggunakan pengalamannya dalam membangun gerakan revolusioner di Rusia untuk memformulasikan teorinya tentang strategi revolusioner di negara-negara terbelakang.
Tugas terberat kaum revolusioner pada masa kekaisaran Rusia adalah memenangkan kesadaran yang ada pada klas pekerja, dan keterlibatan aktif mereka dalam proses revolusi. Mayoritas rakyat Rusia bukanlah buruh, melainkan para petani yang berada pada taraf subsistensi pra-industrial, dan hak-hak demokratik pun, meskipun bersifat terbatas, ditolak oleh Rezim represif Tsar.
Di Rusia tidak ada syarat untuk melahirkan Revolusi Borjuis seperti yang terjadi di negara-negara Eropa Barat, di mana aturan-aturan monarki digantikan oleh parlemen yang terpilih. Adanya parlemen ini merefleksikan pertumbuhan kekuatan ekonomi di bidang politik, dan mereka, klas borjuis, menjadi klas penguasa yang baru. Borjuasi Rusia secara ekonomis sangat lemah, dan secara politis mereka takut untuk bekerja sama dengan klas buruh dan tani dalam revolusi borjuis.
Menurut teori “Uninterrupted Revolution“ (revolusi berkelanjutan) yang dikembangkan oleh Lenin, tahapan yang pertama adalah keterlibatan klas pekerja dan seluruh petani dalam penggulingan Tsar dan pembentukan sebuah republik demokratik. Yang kedua, tahapan sosialis yang melibatkan buruh yang bersatu dengan para petani miskin untuk melawan para kulak (tuan tanah).
Untuk memudahkan dan menerapkan tahapan yang pertama, Bolshevik meyakini sebuah sistem yang didasarkan pada perwakilan-perwakilan (soviet) buruh dan tani yang dipilih oleh rakyat. Sistem pemerintahan inilah yang akhirnya diterapkan setelah revolusi 1917.
Reformasi agraria akan tuntas ketika kontrol atau kepemilikan tanah yang dipegang oleh tuan-tuan tanah diambil-alih oleh para petani penggarap. Bagaimanapun, Lenin percaya bahwa para petani miskin tidak akan segera menyadari perbedaan kepentingan mereka dengan petani kaya, dan oleh karena itu, mereka juga tidak akan segera mendukung langkah-langkah sosialis seperti kolektivisasi tanah.
Dalam tahap kedua, kekuasaan politik digunakan oleh klas pekerja untuk memperoleh kontrol ekonomi secara langsung, dan untuk membantu para petani miskin dalam pengambil-alihan atas kontrol tanah.
Pada tahun 1918 Lenin menulis: “Sesuatu telah berubah seperti yang dulu kita katakan. Pelajaran yang didapat dari revolusi telah menegaskan kebenaran penjelasan atas argumen-argumen kita. Pertama, dengan kaum tani melawan monarki, melawan tuan-tuan tanah, melawan pemikiran abad pertengahan atau mediavalism (dan untuk meningkatkan revolusi terhadap sisa-sisa borjuasi, demokratik borjuis). Kemudian bersama dengan kaum petani miskin, semi-proletariat, dan semua yang tereksploitasi, mereka akan berperang membantai kapitalisme, termasuk orang-orang kaya pedesaan, para tengkulak, lintah-darat, dan semuanya itu meningkatkan revolusi ke tahapan sosialis. Jika kita berusaha mendirikan sebuah “Tembok Cina” antara tahap pertama dan kedua, untuk memisahkan keduanya dengan alasan selain tingkatan kesiapan proletariat dan tingkatan persatuan atau kesatuan dengan para petani, berarti sangat mendistorsi Marxisme, menjadikannya vulgar, memindahkan liberalisme ke tempatnya semula.
Ketika Karl Marx dan Frederick Engel meramalkan bahwa revolusi sosialis akan terjadi pertama kali di negara-negara kapitalis maju, ini bukanlah permasalahan bagaimana sejarah berjalan (proceeded). Mereka belum melihat dampak super-profit Imperialis dan aristokrasi perburuhan yang melanda klas pekerja di negara-negara maju.
Kemenangan revolusi Rusia menunjukkan bahwa kapitalisme akan hancur di mata rantainya yang paling lemah. Paska revolusi Rusia, hal ini terulang lagi dan lagi, mulai dari Kuba sampai Nikaragua, dari Vietnam ke Granada, hingga menunggu waktu untuk memerahkan Eropa.
Sesungguhnya, revolusi-revolusi ini sangat mudah dipatahkan, jika Lenin tidak menganalisis ulang akan teorinya. Imperialisme akan memperbesar kekuatannya untuk mendapatkan kembali kontrol dan dominasinya atas negara-negara yang telah memutuskan hubungan dengan kapitalisme. Tahun 1918, negara imperialis melakukan intervensi militer untuk mendukung kapitalis kontra-revolusi di Rusia. Amerika Serikat juga telah melakukan (memimpin) blokade ekonomi selama 40 tahun terhadap Kuba, namun revolusi di sana masih bisa diselamatkan.
Lenin berkata di tahun 1912, “Kita selalu mengutamakan dan memperteguh kebenaran mendasar Marxisme—bahwa usaha penggabungan kaum buruh dari berbagai belahan negara-negara maju adalah dibutuhkan untuk kemenangan Sosialisme."
Di negara-negara terbelakang, pemerintahan sosialis masih menggantungkan diri pada segelintir administrator dan manajer ahli untuk menjalankan ekonomi. Di Rusia, dominasi dilakukan oleh badan birokrasi yang berbasis pada lapisan sosial yang mengambil kekuasaan, yang saat itu dipimpin oleh Joseph Stalin. Lantas yang terjadi kemudian adalah; pria berkumis lebat itu meluluh-lantakkan semua pemikiran-pemikiran Bolshevik tentang organisasi sosial, demokrasi partai, dan internasionalisme.
Sayangnya, banyak yang mengganggap ide-ide tersebut (stalinisme) adalah sosialisme. Teori Stalin yang sungguh keliru, “Building Socialism in One Country” (Sosialisme dalam satu negeri) digunakan untuk mengorbankan perjuangan sosialis di banyak negara demi mempertahankan kepentingan-kepentingan mendesak Uni-Soviet. Sesungguhnya, tipikal nasionalis chauvinis ini bukanlah ajaran-ajaran dari Lenin, apalagi Karl Marx. Dan sejarah kelam era-Stalin inilah yang terus dikunyah-kunyah oleh praktisi-praktisi anti-Marxis hingga saat ini.
Karena imperialisme adalah sebuah sistem penindasan yang berskala Internasional, maka dibutuhkan sebuah perjuangan yang berskala internasional pula. Internasionalisme revolusioner menurut Lenin berarti mendukung perjuangan melawan segala penindasan dan eksploitasi yang terjadi di berbagai penjuru dunia, termasuk pemerintahan kita sendiri



















3 Mar 2015

Bukti-bukti PKI Adalah Otak G/30/S

SAAT PERTAMA KALI kali mendengar siaran RRI 1 Oktober, Soeharto dalam buku: “Pikiran, ucapan, dan tidakan saya” berkata: “Deg, saya segera mendapatkan firasat. Lagipula saya tahu siapa itu Letkol Untung. Saya ingat, dia dekat dengan PKI, malahan pernah jadi anak didik tokoh PKI, Alimin.” Ia hendak menyatakan: telah menduga bahwa PKI lah yang mengorganisir G/30/S bahkan saat para jenderal yang masih hidup belum dieksekusi mati. Waw! Betapa maha-hebatnya firasat sang Jenderal yang satu ini!
Saat berkumpul di markas Kostrad, pagi hari 1 Oktober, beberapa perwira masih ragu dengan pernyataan Soeharto tadi. Namun, Yoga Sugama mendukung pernyataan Soeharto dan bersiap untuk mencari bukti-buktinya. Betapa kompaknya kedua orang ini. Kelak, dalam memoarnya, Yoga Sugama menyombongkan diri sebagai orang pertama yang meyakinkan Soeharto bahwa PKI bersalah sehingga merubah firasat Soeharto menjadi keyakinan yang tak tergoyahkan. Penuturan Sugama itu memberi kesan bahwa ia dan Soeharto sudah menengarai sang dalang G/30/S bahkan sebelum mendapatkan satu pun bukti yang pasti.
Besoknya, Brigjend Sucipto membentuk organisasi sipil dengan nama Kesatuan Aksi Pengganyangan G/30/S (KAP-Gestapu) yang dipimpin oleh Subchan Z.E. dari NU. Lelaki yang terakhir dikenal sangat dekat dengan militer anti-PKI bahkan sebelum G/30/S meletus. 
Pada tanggal 5 oktober (HUT ABRI) Angkatan Darat menerbitkan buku setebal 130 halaman yang disusun cepat, berisi catatan rangkaian kejadian dan dengan sangat percaya diri menuduh PKI sebagai dalang. Padahal sampai saat itu, tak ada satu pun bukti yang bisa menguatkan. Tuduhan-tuduhan di dalam buku hanya semata-mata analisis tanpa bukti yang bisa dikategorikan sebagai fitnah.
Melalui corong radio, Mayjend Soeharto mengerahkan atau menganjurkan massa sipil sambil menyebarkan propaganda anti-PKI melalui pers (yang seluruhnya sudah di bawah kendali Angkatan Darat sejak akhir pekan pertama Oktober). Sebuah kisah sensasional melukiskan bagaimana Pemuda Rakjat dan Gerwani menyiksa, menyayat-nyayat, sampai memotong kemaluan para jenderal. Dua hari kemudian, massa seperti merespon berita ‘pesta lubang buaya’ dengan kemarahan yang membludak: membakar habis gedung CC-PKI di Jalan Kramat Raya Jakarta.
Bahkan setelah pembantaian kaum komunis mulai dilaksanakan (akhir 1965 dan awal 1966), masyarakat belum memperoleh bukti yang shahih bahwa PKI mendalangi G/30/S.
PKI memang mendukung G/30/S, sebagaimana terlihat dalam editorial Harian Rakjat pada 2 Oktober 1965, yang memuji G/30/S sebagai aksi patriotik dan revolusioner.  Tapi bagaimanapun, koran itu tidak memberikan bukti apa pun bahwa PKI lah yang mengorganisir G/30/S, terutama karena harian itu menyatakan bahwa: “G/30/S adalah masalah intern dalam Angkatan Darat.”
Pusat Penerangan angkatan Darat menerbitkan tiga jilid seri buku dari Oktober sampai Desember 1965, dengan maksud hendak membuktikan bahwa PKI adalah dalang G/30/S. bukti-bukti dalam buku ini tidak substansial dan handal. Bukti utama adalah pengakuan Letkol Untung (yang tertangkap di Jawa Tengah, 13 Oktober) dan Kolonel Latief (tertangkap 11 Oktober di Jakarta), bahwa mereka adalah antek-antek PKI. Namun, pada sidang pembelaannya dua tahun kemudian,  Latief mengatakan waktu itu ia berada dalam kondisi setengah sadar akibat luka di kaki yang membusuk karena tusukan bayonet. Dalam mahkam pengadilan di belahan dunia mana pun, kesakisan yang diperoleh di bawah tekanan dan dengan siksaan tidak dapat diterima. Dalam sidang Mahmilub kemudian, Untung dan Latief menyangkal hasil interogasi pada Oktober 1965, dan bersikeras bahwa merekalah yang memimpin G/30/S. PKI, mereka menegaskan, diajak ikut serta hanya sebagai tenaga bantuan.
Kita harus curiga ketika tuduhan sebagian didasarkan atas propaganda palsu (penyiksaan para jenderal)  dan sebagian lagi atas kesaksian yang diperoleh melalui siksaan. Pengakuan dua tokoh PKI (Njono dan Aidit) yang diterbitkan oleh pers Angkatan Darat pada akhir 1965 merupakan pemalsuan yang bersifat pemaksaan untuk mendukung propaganda mereka (itu sebabnya pengakuan Aidit tersebut tak pernah lagi menjadi acuan dalam penulisan sejarah G/30/S).
Mungkin, satu-satunya bukti dari Angkatan Darat yang layak diperdebatkan adalah pengakuan seorang agen Biro Chusus PKI yang bernama Sjam atau Kamaruzaman atau Tjugito. Namun lagi-lagi di sini Angkatan Darat menjadi hiperbola dengan melebih-lebihkan pernyataan Sjam. Sjam menyatakan bahwa hanya Aidit melalui Biro Chusus memerintahkannya untuk mengorganisasi G/30/S, namun Angkatan Darat menyiarkan bahwa Commite Central PKI lah yang mengorganisir gerakan. Sjam melukiskan bahwa G/30/S adalah pembersihan jenderal-jenderal sayap kanan yang bekerja untuk kekuatan pihak asing, sementara Angkatan Darat meyakinkan hal itu adalah suatu kudeta, awal dari niat PKI untuk melaksanakan revolusi sosial. AD harus menunjuk CC-PKI sebagai otak untuk membenarkan kehebatan penindasan mereka terhadap massa komunis di seluruh negeri. 
Satu cacat kasat mata dalam narasi rezim Soeharto pasca-1967 tentang Biro-Chusus adalah satu-satunya bukti mereka yang handal adalah kesaksian seseorang yang mengakui bahwa: menipu adalah pekerjaanya. Sjam, seorang tokoh tak dikenal, tak pernah muncul sebagai pemimpin PKI. Ia mengaku bahwa dirinya sangat dipercaya oleh Aidit sehingga ditugasi untuk masuk ke dalam tubuh Angkatan Darat. Seorang agen intelligen yang harus menipu dalam pekerjaannya menjadi satu-satunya bukti handal!
Jika rezim Soeharto bersungguh-sungguh dalam pengumpulan bukti tentang keterlibatan PKI, ia tak akan bergegas-gegas mengeksekusi empat pimpinan pucak PKI. DN Aidit , justru tokoh yang rezim Soeharto dinyatakan sebagai dalang, ditembak mati di sebuah tempat rahasian di Jawa Tengah pada 22 November 1965. Hal ini membuat kita tergelitik untuk bertanya: apakah pengadilan pura-pura yang di selenggarakan Soeharto begitu takutnya bila Aidit ‘mengamuk’ di dalam persidangan seperti yang pernah ia lakukan dahulu saat diajukan ke pengadilan oleh Muhammad Hatta karena kasus Madiun affair? (di situ Aidit dinyatakan tidak bersalah dan Hatta terpaksa mencabut tuntutannya)
Jadi apa buktinya PKI sebagai instansi adalah otak dalam G/30/S? Seperti yang dinyatakan oleh John Roosa:  
Pada akhirnya, satu-satunya bukti bahwa PKI memimpin G/30/S adalah karena Angkatan Darat menyatakan demikian.

Sumber:
Suharto, Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya.
Sugama, Memori Jenderal Yoga.
Pusat Penerangan Angkatan Darat, Fakta-fakta Persoalan Sekitar “Gerakan 30 September.” Penerbitan chusus no. 1, 5 Oktober 1965.
CIA Report No,22 from U.S Embassy in Jakarta to White House, 8 Oktober 1965.
“Berita Atjara Pemeriksaan,” Laporan interogasi Latief, 25 Oktober 1965. Interogator Kapten Hasan.
Anderson, Ben, “How Did the Generals Die?
“Gerakan 30 September” Dihadapan Mahmilub, Perkara Untung.
Hughes, “End of Sukarno”
Brackman, “Communist Collapse in Indonesia: The Gestapu Affair”
Aidit, “Menggugat Peristiwa Madiun”
Roosa, John, “Pretect for Mass Murder”